Di Tengah Modernitas, Pemuda Harus Tetap Berpijak pada Tradisi dan Dawuh Kiai

Oleh: Eko Sumadi

Di era digital seperti sekarang, perubahan berjalan begitu cepat. Dunia bergerak hanya dalam genggaman tangan. Informasi datang tanpa batas, tren berganti dalam hitungan hari, dan media sosial sering kali menjadi arah baru cara berpikir generasi muda. Di tengah arus modernitas itu, pemuda dituntut untuk adaptif, kreatif, dan responsif terhadap perkembangan zaman.

Namun, ada satu hal penting yang tidak boleh hilang: akar nilai dan tradisi. Kemajuan teknologi memang penting. Penguasaan media digital, kemampuan komunikasi, kreativitas, hingga inovasi gerakan adalah kebutuhan zaman yang tidak bisa dihindari. Gerakan kepemudaan hari ini tidak cukup hanya hadir di ruang-ruang pertemuan, tetapi juga harus mampu masuk ke ruang digital, membangun narasi, menyebarkan gagasan, dan menjawab tantangan zaman.

Tetapi modernitas tanpa arah nilai justru bisa membuat generasi muda kehilangan pijakan. Hari ini kita menyaksikan bagaimana sebagian anak muda mudah terseret budaya instan. Ukuran keberhasilan sering kali hanya dilihat dari viralitas, popularitas, dan pengakuan media sosial. Tidak sedikit yang akhirnya lebih sibuk membangun pencitraan dibanding membangun pengabdian. Lebih tertarik tampil daripada berproses. Lebih ingin dikenal daripada benar-benar bermanfaat.

Di sinilah pentingnya tradisi dan dawuh kiai sebagai penuntun arah. Tradisi pesantren mengajarkan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga adab. Bahwa perjuangan bukan semata tentang posisi, tetapi tentang ketulusan hati. Bahwa pengabdian tidak selalu harus terlihat, tetapi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Modernitas seharusnya menjadi alat untuk memperkuat perjuangan, bukan menggantikan nilai perjuangan itu sendiri. Pemuda hari ini harus mampu memadukan keduanya: bergerak maju mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap berakar pada nilai, adab, dan kebijaksanaan ulama. Sebab gerakan yang besar tidak lahir hanya dari kecanggihan teknologi, melainkan dari kekuatan moral dan ketulusan niat orang-orang yang menggerakkannya.

Pesan itulah yang sejak dahulu diwariskan para kiai kepada generasi muda Nahdlatul Ulama. Salah satunya dawuh dari KH. Abdul Hamid Zuhri, Pengasuh Ponpes An Najah Dawar Boyolali, yang sangat relevan untuk direnungkan hari ini:

“Khidmat lan berjuang neng NU kui kudu didasari kelawan niat sing tulus-ikhlas. Ojo golek, lan duweni pengarep-arep sing neko-neko, sing orientasine kadonyan. Lamun awakmu berjuang kok ora didasari kanti niat sing tulus-ikhlas, mongko ora bakal oleh manfaat opo-opo, kajobo mung ndadekne ati soyo tambah peteng.”

 

Dawuh tersebut bukan sekadar nasihat spiritual, tetapi juga peringatan moral bagi gerakan pemuda hari ini. Bahwa perjuangan yang kehilangan ketulusan akan mudah berubah menjadi ajang kepentingan pribadi. Aktivisme berubah menjadi panggung popularitas. Organisasi hanya menjadi alat mencari pengaruh dan keuntungan.

Padahal, ruh utama gerakan kepemudaan adalah pengabdian. Karena itu, pemuda harus tetap belajar pada para kiai. Bukan berarti anti terhadap perubahan, tetapi agar memiliki arah dalam menghadapi perubahan. Kiai mengajarkan keseimbangan: terbuka terhadap kemajuan, namun tidak kehilangan identitas. Bergerak cepat, tetapi tetap menjaga adab. Aktif di dunia digital, tetapi tidak meninggalkan nilai spiritual dan sosial.

Di tengah derasnya modernitas, pemuda yang kuat bukanlah mereka yang sekadar mampu mengikuti tren zaman. Tetapi mereka yang tetap teguh menjaga nilai di tengah perubahan zaman. Sebab pohon yang tumbuh tinggi tetap membutuhkan akar yang kuat agar tidak mudah tumbang diterpa arus zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *